Minggu, 21 November 2010

Sejarah Penggunaan Bahasa Sunda Di Tatar Sunda

     Bahasa Sunda merupakan bahasa yang diciptakan dan digunakan oleh orang Sunda
dalam berbagai keperluan komunikasi kehidupan mereka. Tidak diketahui
kapan bahasa ini lahir, tetapi dari bukti tertulis yang merupakan
keterangan tertua, berbentuk prasasti berasal dari abad ke-14.
Prasasti dimaksud di temukan di Kawali Ciamis, dan ditulis pada batu
alam dengan menggunakan aksara dan Bahasa Sunda (kuno). Diperkirakan
prasasti ini ada beberapa buah dan dibuat pada masa pemerintahan Prabu
Niskala Wastukancana (1397-1475).
     Salah satu teks prasasti tersebut berbunyi “Nihan tapak walar nu
siya mulia, tapak inya Prabu Raja Wastu mangadeg di Kuta Kawali, nu
mahayuna kadatuan Surawisésa, nu marigi sakuliling dayeuh, nu najur
sakala désa. Ayama nu pandeuri pakena gawé rahayu pakeun heubeul jaya
dina buana” (inilah peninggalan mulia, sungguh peninggalan Prabu Raja
Wastu yang bertakhta di Kota Kawali, yang memperindah keraton
Surawisesa, yang membuat parit pertahanan sekeliling ibukota, yang
menyejahterakan seluruh negeri. Semoga ada yang datang kemudian
membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia).
Dapat dipastikan bahwa Bahasa Sunda telah digunakan secara lisan
oleh masyarakat Sunda jauh sebelum masa itu. Mungkin sekali Bahasa
Kw’un Lun yang disebut oleh Berita Cina dan digunakan sebagai bahasa
percakapan di wilayah Nusantara sebelum abad ke-10 pada masyarakat Jawa Barat kiranya adalah Bahasa Sunda (kuno), walaupun tidak diketahui wujudnya.

     Bukti penggunaan Bahasa Sunda (kuno) secara tertulis, banyak
dijumpai lebih luas dalam bentuk naskah, yang ditulis pada daun
(lontar, enau, kelapa, nipah) yang berasal dari zaman abad ke-15 sampai
dengan 180. Karena lebih mudah cara menulisnya, maka naskah lebih
panjang dari pada prasasti. Sehingga perbendaharaan katanya lebih
banyak dan struktur bahasanya pun lebih jelas. Contoh bahasa Sunda yang
ditulis pada naskah adalah sebagai berikut:
(1) Berbentuk prosa pada Kropak 630 berjudul Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518) “Jaga rang héés tamba tunduh, nginum twak tambahanaang, nyatu tamba ponyo, ulah urang kajongjonan. Yatnakeun maring kuhanteu” (Hendaknya kita tidur sekedar penghilang kantuk, minum tuak sekedar penghilang haus, makan sekedar penghilang lapar, janganlah berlebih-lebihan. Ingatlah bila suatu saat kita tidak memiliki apa-apa!)
(2) Berbentuk puisi pada Kropak 408 berjudul Séwaka Darma (abad ke-16) “Ini kawih panyaraman, pikawiheun ubar keueung, ngaranna pangwereg darma, ngawangun rasa sorangan, awakaneun sang sisya, nuhuning Séwaka Darma” (Inilah Kidung nasihat, untuk dikawihkan sebagai obat rasa takut, namanya penggerak darma, untuk membangun rasa pribadi, untuk diamalkan sang siswa, yang paham Sewaka Darma).

   Tampak sekali bahwa Bahasa Sunda pada masa itu banyak dimasuki
kosakata dan dipengaruhi struktur Bahasa Sanskerta dari India. Setelah
masyarakat Sunda mengenal, kemudian menganut Agama Islam, dan
menegakkan kekuasaan Agama Islam di Cirebon dan Banten sejak akhir abad
ke-16. Hal ini merupakan bukti tertua masuknya kosakata Bahasa Arab ke
dalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda.
    Di dalam naskah itu terdapat 4 kata yang berasal dari Bahasa Arab
yaitu duniya, niyat, selam (Islam), dan tinja (istinja). Seiring dengan
masuknya Agama Islam kedalam hati dan segala aspek kehidupan masyarakat
Sunda, kosa kata Bahasa Arab kian banyak masuk kedalam perbendaharaan
kata Bahasa Sunda dan selanjutnya tidak dirasakan lagi sebagai kosakata
pinjaman. Kata-kata masjid, salat, magrib, abdi, dan saum, misalnya telah
dirasakan oleh orang Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan
bahasanya sendiri. Pengaruh Bahasa Jawa sebagai bahasa tetangga dengan
sesungguhnya sudah ada sejak Zaman Kerajaan Sunda, sebagaimana
tercermin pada perbendaharaan bahasanya. Paling tidak pada abad abad
ke-11 telah digunakan Bahasa dan Aaksara Jawa dalam menuliskan Prasasti
Cibadak di Sukabumi. Begitu pula ada sejumlah naskah kuno yang
ditemukan di Tatar Sunda ditulis dalam Bahasa Jawa, seperti Siwa Buda,
Sanghyang Hayu.
    Namun pengaruh Bahasa Jawa dalam kehidupan berbahasa masyarakat
Sunda sangat jelas tampak sejak akhir abad ke-17 hingga pertengahan
abad ke-19 sebagai dampak pengaruh Mataram memasuki wilayah ini. Pada
masa itu fungsi Bahasa Sunda sebagai bahasa tulisan di kalangan kaum
elit terdesak oleh Bahasa Jawa, karena Bahasa Jawa dijadikan bahasa resmi
dilingkungan pemerintahan. Selain itu tingkatan bahasa atau Undak Usuk
Basa dan kosa kata Jawa masuk pula kedalam Bahasa Sunda mengikuti pola
Bahasa Jawa yang disebut Unggah Ungguh Basa.
     Dengan penggunaan penggunaan tingkatan bahasa terjadilah
stratifikasi social secara nyata. Walaupun begitu Bahasa Sunda tetap
digunakan sebagai bahasa lisan, bahasa percakapan sehari-hari
masyarakat Sunda. Bahkan di kalangan masyarakat kecil terutama
masyarakat pedesaan, fungsi bahasa tulisan dan bahasa Sunda masih tetap
keberadaannya, terutama untuk menuliskan karya sastera WAWACAN dengan menggunakan Aksara Pegon.
    Sejak pertengahan abad ke 19 Bahasa Sunda mulai digunakan lagi
sebagai bahasa tulisan di berbagai tingkat sosial orang Sunda, termasuk
penulisan karya sastera. Pada akhir abad ke 19 mulai masuk pengaruh
Bahasa Belanda dalam kosakata maupun ejaan menuliskannya dengan aksara
Latin sebagai dampak dibukanya sekolah-sekolah bagi rakyat pribumi oleh pemerintah.
Pada awalnya kata BUPATI misalnya, ditulis boepattie seperti ejaan
Bahasa Sunda dengan menggunakan Aksara Cacarakan (1860) dan Aksara
Latin (1912) yang dibuat oleh orang Belanda. Selanjutnya, masuk pula
kosakata Bahasa Belanda ke dalam Bahasa Sunda, seperti sepur, langsam,
masinis, buku dan kantor.
     Dengan diajarkannya di sekolah-sekolah dan menjadi bahasa komunikasi
antar etnis dalam pergaulan masyarakat, Bahasa Melayu juga merasuk dan
mempengaruhi Bahasa Sunda. Apalagi setelah dinyatakan sebagai bahasa
persatuan dengan nama Bahasa Indonesia pada Tahun 1928. Sejak tahun
1920-an sudah ada keluhan dari para ahli dan pemerhati Bahasa Sunda,
bahwa telah terjadi Bahasa Sunda Kamalayon, yaitu Bahasa Sunda
bercampur Bahasa Melayu.
     Sejak tahun 1950-an keluhan demikian semakin keras karena pemakaian
Bahasa Sunda telah bercampur (direumbeuy) dengan Bahasa Indonesia
terutama oleh orang-orang Sunda yang menetap di kota-kota besar,
seperti Jakarta bahkan Bandung sekalipun. Banyak orang Sunda yang
tinggal di kota-kota telah meninggalkan pemakaian Bahasa Sunda dalam
kehidupan sehari-hari di rumah mereka. Walaupun begitu, tetap muncul
pula di kalangan orang Sunda yang dengan gigih memperjuangkan
keberadaan dan fungsionalisasi Bahasa Sunda di tengah-tengah
masyarakatnya dalam hal ini Sunda dan Jawa Barat. Dengan semakin
banyaknya orang dari keluarga atau suku bangsa lain atau etnis lain
yang menetap di Tatar Sunda kemudian berbicara dengan Bahasa Sunda
dalam pergaulan sehari-harinya. Karena itu, kiranya keberadaan Bahasa
Sunda optimis bakal terus berlanjut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar